Oleh: Parlindungan Marpaung
Suatu kali, setelah berhasil membangun sebuah kastil kerajaan yang megah, seorang raja mengadakan pesta syukuran. Ia mengundang semua orang yang telah berjasa dalam pembangunan kastil tersebut, mulai dari arsitek, penyandang dana, hingga para buruh bangunan. Pembangunan kastil berlangsung bertahun-tahun. Beberapa pekerja bahkan meninggal dunia sebelum pekerjaan selesai. Untuk menghormati jasa mereka, sang raja turut mengundang ahli warisnya agar menerima penghargaan.
Setelah semua berdiri berbaris di hadapannya, sang raja kembali bertanya kepada seluruh tamu, “Apakah masih ada yang belum dipanggil?” Ia tidak ingin ada seorang pun yang terlewat menerima ucapan terima kasih pada hari yang bersejarah itu.
Ruangan sejenak hening. Orang-orang saling berpandangan, bertanya-tanya siapa lagi yang belum disebut.
Tiba-tiba seorang pengemudi pedati mengangkat tangan.
“Tuanku, ada seorang nenek tua yang buta dan tinggal seorang diri di tepi hutan. Setiap kali saya mengangkut batu untuk pembangunan kastil dan melewati rumahnya, nenek itu selalu meraba mulut sapi penarik pedati, menarik tali kekangnya, lalu menyuapkan segenggam rumput ke mulut sapi tersebut. Setiap kali kami lewat, ia selalu melakukan hal yang sama.”
Mendengar cerita itu, sang raja segera memerintahkan agar nenek tersebut dijemput. Pada pesta syukuran itu, ia didudukkan di samping sang raja sebagai orang yang layak menerima penghargaan.

Kehebatan seorang wanita bukan ditentukan oleh kecantikan, kepandaian, atau apa yang dimilikinya. Kehebatan seorang wanita terlihat dari kesediaannya melayani, menolong, dan berkorban bagi orang lain.
RA Kartini telah menunjukkan teladan itu. Dalam kesederhanaannya, ia memberikan hidupnya untuk orang lain, bahkan bagi bangsa dan negara.
Kita juga diingatkan pada perkataan Mahatma Gandhi, “Cara terbaik menemukan diri kita adalah dengan mengabdikan diri untuk melayani orang lain.”
Ada pula ungkapan seorang filsuf yang mengatakan bahwa tidak ada orang jatuh miskin karena berbuat baik, tetapi banyak orang menyesal di masa tua karena terlalu sering menahan kebaikan yang sebenarnya bisa dilakukan.
Perbuatan baik bukan hanya menunjukkan bagaimana kita memperlakukan orang lain. Perbuatan itu juga memperlihatkan siapa diri kita sesungguhnya. Karena itu, jangan menunda kesempatan untuk berbuat baik. Sering kali, ketika kita baru berniat menolong, kesempatan itu sudah lewat atau orang lain telah lebih dahulu melakukannya.
Wanita diciptakan dengan talenta dan keunikan yang berbeda dari pria. Dalam banyak hal, mereka memiliki ketangguhan psikologis dan daya tahan mental yang luar biasa. Kekuatan itu bertumpu pada kasih sayang, terutama kepada orang-orang yang mereka cintai.
Masih teringat beberapa waktu lalu ketika media sosial ramai memberitakan seorang ibu yang berhasil mengangkat sebagian bodi mobil demi menyelamatkan kaki anaknya yang terlindas ban. Sang anak selamat, sementara ibunya sendiri heran bagaimana ia mampu melakukan hal tersebut.
Kasih sayang sering kali memunculkan kekuatan yang bahkan tidak pernah disadari sebelumnya.
Di balik itu, perempuan juga memiliki harapan yang kuat. Harapan membuat mereka mampu bertahan menghadapi perubahan dan kesulitan. Karena itu, ketika kita melihat seorang wanita tersenyum dan tertawa, bukan berarti hidupnya bebas dari persoalan. Mereka tetap memiliki masalah, tetapi harapan dan kekuatan yang dimiliki sering kali lebih besar daripada masalah yang dihadapi. John C. Maxwell pernah mengatakan bahwa orang-orang yang memiliki harapan akan selalu menemukan alasan untuk terus melangkah.

Kehadiran seorang wanita, terlebih seorang ibu, memberi jiwa dan warna bagi sebuah rumah. Rumah tanpa ibu terasa berbeda. Seorang ibu bisa menggantikan banyak peran, tetapi tidak ada yang benar-benar mampu menggantikan dirinya.
Karena itu, anggapan bahwa ibu rumah tangga tidak bekerja tentu kurang tepat. Jika pekerjaan formal rata-rata berlangsung delapan hingga sepuluh jam sehari, pekerjaan seorang ibu sering kali berlangsung sepanjang hari tanpa mengenal jam kerja.
Semakin ia menjalani perannya dengan rasa syukur, semakin besar pula ketangguhan yang terbentuk.
Tidak mengherankan jika seorang ibu sering disebut sebagai Master of Multitasking. Ia mampu mengurus banyak hal dalam waktu yang bersamaan. Bagi perempuan yang juga berkarier, kemampuan mengatur prioritas menjadi modal yang sangat berharga. Mereka belajar menyeimbangkan tanggung jawab pekerjaan dengan keluarga, sekaligus tetap memberi perhatian kepada orang-orang yang mereka cintai.
Kemampuan inilah yang membuat banyak perempuan lebih peka membaca perubahan dan mampu menyesuaikan diri dengan cepat.
Peter Drucker pernah mengatakan bahwa seseorang akan semakin kuat ketika berani menghadapi kenyataan (facing reality). Orang yang tidak lari dari masalah akan semakin terlatih menghadapi tantangan yang lebih besar.
Ketika menghadapi persoalan, banyak perempuan memilih tidak sibuk membenarkan diri atau menyalahkan keadaan. Mereka berusaha mengambil tanggung jawab, mencari jalan keluar, dan baru meminta bantuan ketika benar-benar membutuhkannya.
Semangat yang sama juga dapat kita lihat pada banyak Insan KAI. Di balik pelayanan yang diberikan kepada pelanggan, ada perempuan-perempuan yang setiap hari menjalankan berbagai profesi, mulai dari petugas pelayanan, kondektur, masinis, petugas operasi, tenaga teknik, hingga pekerja di berbagai fungsi pendukung perusahaan. Mereka bekerja dengan dedikasi, tetap menjalankan peran di keluarga, sekaligus terus mengembangkan diri.
Semangat melayani yang mereka tunjukkan menjadi bagian penting dari budaya kerja KAI. Pelayanan yang baik selalu lahir dari kepedulian terhadap orang lain, dan nilai itu tidak mengenal jabatan maupun profesi.
Di tengah perubahan yang berlangsung begitu cepat, ada beberapa hal yang dapat terus dilakukan perempuan untuk meneruskan semangat RA Kartini.
Pertama, terus belajar. Dunia tidak pernah berhenti mengajarkan hal-hal baru. Pengalaman hidup, pelatihan, buku, maupun para mentor selalu menyediakan ruang untuk berkembang. Kedua, menjaga kesehatan. Tubuh yang sehat menjadi bekal penting untuk tetap berkarya dan melayani.
Ketiga, aktif dalam komunitas yang positif. Di dalamnya ada ruang untuk saling belajar, berbagi pengalaman, dan saling menguatkan. Keempat, tetap dekat dengan Tuhan melalui ibadah serta memperbanyak kegiatan sosial dan berbagi kepada sesama.
Semoga perempuan-perempuan Indonesia, khususnya perempuan KAI, terus tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, peduli, dan mampu menghadapi perubahan dengan hati yang tetap penuh semangat melayani, menuju Indonesia Emas.