Lebih dari seabad melayani perjalanan kereta api, Stasiun Semarang Poncol telah melewati pergantian pemerintahan, masa perang, hingga era modern. Bangunan yang berdiri sejak 1914 ini bukan sekadar tempat naik dan turun penumpang, melainkan saksi perjalanan panjang perkeretaapian Indonesia.
Jika berkunjung ke Kota Semarang, Stasiun Semarang Poncol menjadi salah satu bangunan yang sulit dilewatkan. Setiap hari ribuan pengguna datang dan pergi, mengejar jadwal perjalanan atau pulang ke kampung halaman. Di balik aktivitas yang nyaris tak pernah berhenti itu, tersimpan kisah panjang yang sudah dimulai lebih dari seratus tahun lalu.
Ceritanya bermula pada 1892. Saat itu perusahaan kereta api swasta Samarang–Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS) mengambil alih konsesi jalur Semarang–Cirebon dari Java Spoorweg Maatschappij (JSM). Setelah pengambilalihan tersebut, pembangunan lintas kereta dilakukan secara bertahap untuk menghubungkan kawasan pesisir utara Jawa.
Lima tahun kemudian, tepatnya pada 2 Mei 1897, jalur Semarang–Kaliwungu sepanjang 19 kilometer resmi dibuka. Sebagai titik pemberhentian di Kota Semarang, masyarakat kala itu mengenal Stasiun Pedrikan. Kehadiran jalur ini menjadi awal berkembangnya jaringan kereta api di wilayah Semarang.

Pertumbuhan lalu lintas kereta mendorong SCS membangun stasiun baru yang lebih representatif. Pilihan itu jatuh pada kawasan Poncol.
Pada 6 Agustus 1914, stasiun baru tersebut resmi beroperasi dengan nama Semarang West. Bangunannya dirancang oleh arsitek Belanda Henry Maclaine Pont, sosok yang dikenal banyak melahirkan karya arsitektur penting di Hindia Belanda.
Ciri khas rancangan itu masih dapat dikenali hingga sekarang. Bangunan utama ditempatkan di bagian tengah dan diapit bangunan sayap di kanan serta kiri. Dahulu, fasad bangunan dihiasi ubin berwarna hitam dan abu-abu bertuliskan SCS serta angka 1914 sebagai penanda tahun berdirinya. Area peron juga dinaungi overkaping baja yang diproduksi oleh De Vries Robbe di Gorinchem, Belanda, sebuah teknologi konstruksi yang tergolong modern pada masanya.
Memasuki masa pendudukan Jepang pada 1942, fungsi Stasiun Poncol berubah mengikuti kebutuhan perang. Pengelolaan perkeretaapian berada di bawah eksploitasi Jawa Tengah atau Chubu Kyoku, sementara jaringan rel lebih banyak dimanfaatkan untuk kepentingan militer. Bahkan beberapa lintas dibongkar untuk memenuhi kebutuhan pembangunan jalur kereta api Myanmar–Thailand. Jalur Semarang–Solo termasuk yang dibongkar pada Juni 1942.
Peran Stasiun Poncol kembali berubah setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada 1945.
Di tengah situasi yang belum menentu, para pegawai stasiun bergerak cepat mengamankan aset perkeretaapian. Lokomotif-lokomotif yang berada di depo dievakuasi menuju Stasiun Kedungjati agar tidak kembali dikuasai oleh pihak musuh. Langkah tersebut menjadi bagian dari perjuangan mempertahankan sarana transportasi yang sangat penting bagi republik yang baru lahir.
Kisah-kisah seperti inilah yang membuat Stasiun Semarang Poncol memiliki nilai lebih dari sekadar bangunan operasional. Ia menyimpan jejak perkembangan teknologi, dinamika sosial, hingga semangat perjuangan para insan perkeretaapian.
Kini, lebih dari satu abad sejak pertama kali dibuka, Stasiun Semarang Poncol tetap menjalankan perannya sebagai simpul transportasi penting di Jawa Tengah. Modernisasi layanan terus dilakukan, namun karakter historis bangunannya tetap dipertahankan.
Nilai sejarah tersebut mendapat pengakuan resmi ketika Stasiun Semarang Poncol ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya berdasarkan Surat Keputusan Wali Kota Semarang Nomor 646/50/1992. Bangunan ini juga tercatat dalam Registrasi Nasional Cagar Budaya dengan nomor RNCB.20160818.02.001204.

Pelestarian bangunan bersejarah seperti Stasiun Semarang Poncol memperlihatkan bahwa kemajuan tidak selalu berarti meninggalkan masa lalu. Di tengah perkembangan teknologi perkeretaapian yang semakin modern, stasiun ini tetap berdiri sebagai pengingat bahwa perjalanan panjang KAI dibangun oleh sejarah, dedikasi, dan kerja keras banyak generasi.
Setiap kereta yang datang dan berangkat dari Poncol hari ini seolah melanjutkan kisah yang sudah dimulai lebih dari seratus tahun silam. Sebuah kisah yang terus bergerak, mengikuti zaman, tanpa kehilangan jejak sejarahnya.
Sumber:
- Korte Geschiedenis der Nederlandsch Indische Spoor en Tramwegen
- Mosaik Perjuangan Kereta Api IV Jawa Tengah