Setiap stasiun memiliki kisah. Di Serang, stasiun menjadi saksi dari geliat perekonomian lokal yang telah beroperasi sejak lebih dari seabad lalu.
Stasiun Serang bisa dipandang sebagai salah satu penanda penting Kota Serang. Stasiun yang beroperasi sejak 1 Juli 1900 ini, pada awalnya bukan hanya difungsikan untuk melayani penumpang, tetapi juga sebagai tempat bongkar muat kereta barang.
Sejarah panjang Stasiun Serang berakar dari rencana besar membangun jalur kereta api di wilayah Banten pada paruh akhir abad ke-19. Rencana pembangunan Stasiun Serang mencuat pada tahun 1881. Saat itu, pihak swasta beberapa kali mengajukan konsesi, menyadari betapa strategisnya posisi Banten sebagai daerah penghasil pertanian dan perkebunan. Namun baru pada tahun 1889 wacana ini menemukan titik terang, tepatnya saat Direktur Pekerjaan Umum Hindia Belanda mengusulkan pembangunan jalur Jakarta—Serang.
Butuh waktu hingga 15 Juli 1896, saat diterbitkannya Undang-undang Lembaran Negara No. 189, barulah rencana ini mendapat legitimasi. Jalur yang dirancang tak hanya berhenti di Serang, tetapi diteruskan hingga ke pesisir barat Anyer.
Momen penting pun terjadi pada 1 Juli 1900. Pada hari itu, Stasiun Serang resmi beroperasi, bersamaan dengan dibukanya jalur kereta Rangkasbitung—Serang. Staatsspoorwegen (SS), jawatan kereta milik Hindia Belanda, kala itu bertindak sebagai operator.
Bergaya Indis
Sejak awal Stasiun Serang dibangun dengan gaya arsitektur Indis, yakni gaya arsitektur yang memadukan cita rasa estetika Eropa dengan fungsionalitas khas tropis. Stasiun Serang dirancang dengan model atap pelana, kerangka kayu, dan genteng tanah liat. Sebagaimana khas gaya Indis pada saat itu, bukaan pintu dan jendela berukuran besar, berbahan kayu model krepyak. Ini membuat sirkulasi udara yang alami dan sejuk menjadi amat terasa.
Secara denah, stasiun memanjang dari utara ke selatan dan menghadap arah barat. Penataan ini bukan tanpa alasan, melainkan disesuaikan dengan arah jalur kereta. Bangunan stasiun ini terdiri dari dua buah ruangan. Ruang pertama merupakan ruangan kontrol perjalanan kereta api, sekaligus ruang kepala stasiun. Sedangkan ruang kedua difungsikan untuk loket dan administrasi.
Di antara kedua ruang tersebut, terdapat ruang tunggu penumpang. Secara struktur, keaslian struktur dan elemen-elemen utama bangunan seperti daun jendela yang berukuran besar, engsel pintu, kayu pintu, dan papan internit, masih dipertahankan atau sekurang-kurangnya masih menyisakan bentuk-bentuk lama.
Penopang Ekonomi Lokal
Pada tahun 1926, Stasiun Serang tercatat melayani enam kali perjalanan pulang-pergi setiap harinya. Rute Serang—Rangkasbitung bisa ditempuh dalam waktu sekitar satu jam sepuluh menit, cukup cepat untuk ukuran zaman itu. Jalur ini menjadi penghubung vital antara ibu kota kolonial (Batavia) dan daerah-daerah penghasil komoditas utama.
Tidak hanya mengangkut penumpang, stasiun ini juga berperan penting dalam mengangkut hasil bumi seperti padi, kopi, karet, dan buah-buahan. Pada dekade 1930-an, kereta api merupakan tulang punggung logistik yang menopang ekonomi agraris Banten.
Melompat ke dekade 1970-an, kereta api masih menjadi primadona transportasi masyarakat Serang. Kala itu masyarakat menjulukinya sebagai SARANGMAS, akronim dari Sarana Angkutan Massal, karena mampu menjangkau wilayah pelosok yang minim akses kendaraan pribadi.
Saat itu, wilayah Serang menjadi bagian dari skema perencanaan transportasi nasional yang terintegrasi dengan pertumbuhan Jakarta sebagai megapolitan. Pemerintah Pusat menetapkan kebijakan perkeretaapian yang menyesuaikan dengan kebutuhan penduduk urban dan penyangga, termasuk Banten.
Puncaknya, pada tahun 1983, pemerintah mulai merancang sistem transportasi kereta api yang lebih efisien, aman, dan ramah lingkungan, sekaligus membuka peluang untuk modernisasi dan elektrifikasi di masa depan.

Menjadi Cagar Budaya sekaligus Lini Depan Konektivitas
Kiprah Stasiun Serang masih terus dirasakan oleh masyarakat hingga kini. Kini, stasiun ini melayani Kereta Commuter Line Merak yang dikelola oleh KAI Commuter, dengan rute Rangkasbitung—Serang—Merak. Jalur ini menjadi nadi transportasi harian bagi pekerja, pelajar, dan masyarakat umum yang melakukan mobilitas dari dan menuju Serang.
Untuk semakin mengoptimalkan perannya, modernisasi dilakukan. Mulai dari pembaruan peron, sistem tiket elektronik, hingga fasilitas yang ramah bagi penyandang disabilitas.
Akan tetapi, untuk merawat nilai sejarah yang terkandung di dalamnya, struktur asli stasiun tetap dipertahankan. Selain itu, sejak 2010 lalu, Stasiun Serang telah ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya melalui Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata No. PM.02/PW.007/MKP/2010.