Gambir Siap Naik Level!

Stasiun Gambir sedang disiapkan untuk menjalankan peran yang lebih besar. Fungsinya sebagai gerbang utama perjalanan KA Jarak Jauh dari pusat Jakarta tetap dipertahankan, namun kawasan ini juga akan dikembangkan agar lebih mudah terhubung dengan transportasi publik, kawasan Monas, serta berbagai aktivitas masyarakat.

Lokasinya memang sulit dicari tandingannya. Gambir berada di tengah Jakarta, berdekatan dengan Monas, pusat pemerintahan, perkantoran, hotel, dan berbagai ruang publik. Setiap hari, ribuan orang datang dan pergi dari kawasan ini. Sepanjang 2025, Stasiun Gambir melayani lebih dari 6,1 juta pelanggan. Pada Semester I 2026, jumlahnya sudah mencapai lebih dari 3,2 juta pelanggan, terdiri dari 1.652.532 pelanggan berangkat dan 1.574.976 pelanggan tiba.

KAI melihat potensi tersebut dalam rencana pengembangan Gambir. Konsep yang disiapkan adalah Modern Station & Lifestyle Hub, dengan perpaduan fungsi mobilitas, budaya, dan gaya hidup. Stasiun diharapkan tetap nyaman sebagai tempat berangkat dan tiba, sekaligus memiliki ruang yang dapat digunakan untuk makan, berbelanja, bekerja, bertemu, atau sekadar beristirahat.

Perubahan itu akan terasa dari banyak sisi. Rencana pengembangan mencakup area kuliner dan ritel, lounge, hotel, ruang pertemuan, rooftop park, ruang publik, hingga jalur pedestrian yang menghubungkan kawasan stasiun dengan Monas. Integrasi dengan moda transportasi lain seperti TransJakarta dan MRT juga masuk dalam kajian pengembangan kawasan.

Lebih Mudah Berpindah Moda

Salah satu perubahan yang cukup dinanti ialah kemungkinan Gambir melayani naik dan turun pelanggan Commuter Line. Saat ini, kereta Commuter Line Bogor Line memang melintas di jalur layang Gambir. Jumlahnya mencapai 326 perjalanan setiap hari, tetapi belum berhenti untuk melayani pelanggan.

Rencana layanan tersebut masih disiapkan secara bertahap. Kesiapan infrastruktur, kapasitas lintas, pengaturan operasional, keselamatan, serta koordinasi dengan regulator perlu dipastikan sebelum layanan berjalan.

Kebutuhannya cukup jelas. Dalam tiga tahun terakhir, perjalanan Commuter Line Jabodetabek meningkat dari 217.964.892 perjalanan pada 2022 menjadi 344.621.825 perjalanan pada 2025. Pertumbuhannya mencapai sekitar 58,11 persen.

Bogor Line menjadi lintas tersibuk. Jumlah pelanggannya meningkat dari 102.054.022 pada 2022 menjadi 155.009.997 pada 2025. Hingga Semester I 2026, lintas ini telah melayani 78.077.679 pelanggan.

Jika kelak Gambir dapat melayani Commuter Line, akses menuju pusat Jakarta akan semakin dekat bagi masyarakat yang datang dari arah Bogor, Depok, Cibinong, Nambo, dan wilayah sekitarnya. Pelanggan KA Jarak Jauh pun akan memiliki pilihan koneksi yang lebih banyak ketika hendak melanjutkan perjalanan.

Pengembangan Gambir tetap berjalan bersama penguatan Stasiun Manggarai. Keduanya tidak ditempatkan untuk saling menggantikan. Manggarai tetap diarahkan sebagai simpul perpindahan antarlintas, sementara Gambir diperkuat sebagai gerbang KA Jarak Jauh di pusat kota sekaligus akses menuju kawasan Monas dan pusat aktivitas Jakarta.

Area Komersial Baru

Perubahan Gambir juga tidak berhenti pada urusan transportasi. Aktivitas komersial di dalam stasiun sudah cukup ramai. Saat ini terdapat 132 area komersial yang telah tersewa, terdiri dari 67 space dan 65 open space.

Pilihan yang tersedia cukup beragam. Ada restoran, kedai kopi, minimarket, toko oleh-oleh, toko buku, lounge, hotel transit, pod hotel, ATM, vending machine, hingga berbagai layanan pendukung perjalanan.

Pengembangan kawasan akan memperluas ruang tersebut. Berdasarkan kajian Optimalisasi Bisnis dan Visioning Stasiun Gambir, KAI menyiapkan sekitar 15.479 meter persegi area komersial baru dan sekitar 3.756 meter persegi untuk hotel serta ruang pertemuan. Area baru itu diproyeksikan dapat menampung sekitar 220 hingga 310 unit usaha.

Jumlah tersebut juga membawa peluang bagi masyarakat. Pengembangan New Gambir diperkirakan dapat membuka sekitar 500 hingga 1.000 lapangan kerja, baik secara langsung maupun dari berbagai pekerjaan pendukung yang muncul di kawasan.

Bagi KAI, pengembangan area komersial juga punya arti bagi struktur pendapatan perusahaan. Saat ini sekitar 96 persen pendapatan KAI masih berasal dari layanan kereta api. Ruang komersial, hospitality, kuliner, dan berbagai kegiatan usaha di kawasan stasiun dapat memperkuat pendapatan non-tiket sekaligus membuat aset perusahaan lebih produktif.

Share Artikel

Hubungi Kami