Dulu, kehadiran perempuan di dunia perkeretaapian sering dianggap sebagai pelengkap. Hari ini, ceritanya jauh berbeda. Mereka hadir di berbagai profesi, ikut mengambil keputusan, membangun budaya kerja, dan membawa cara pandang baru yang akhirnya ikut dirasakan jutaan pelanggan KAI.
Kalau diminta menyebut profesi yang identik dengan dunia kereta api, kebanyakan orang mungkin akan langsung membayangkan masinis, petugas operasional, teknisi, atau pekerja lapangan. Selama bertahun-tahun, profesi-profesi tersebut memang lebih banyak diisi laki-laki. Bukan karena perempuan tidak mampu, tetapi karena dunia perkeretaapian sejak lama dipersepsikan sebagai lingkungan kerja yang keras, menuntut kesiapan fisik, dan penuh tantangan.
Persepsi itu perlahan berubah.
Hari ini, perempuan dapat dijumpai hampir di setiap lini organisasi KAI. Mereka melayani pelanggan di stasiun, mengatur perjalanan kereta dari ruang pengendali operasi, bekerja di bidang teknik, teknologi informasi, keuangan, hukum, komunikasi perusahaan, hingga mengelola sumber daya manusia. Sebagian lain memegang jabatan strategis dan ikut menentukan arah kebijakan perusahaan.
Perubahan itu memang tidak berlangsung dalam semalam. Namun arahnya terlihat jelas.
Data KAI menunjukkan, hingga akhir 2025 perusahaan memiliki 29.585 pekerja. Sebanyak 1.687 di antaranya merupakan perempuan. Jumlah tersebut memang belum sebesar pekerja laki-laki, tetapi terus menunjukkan perkembangan dalam beberapa tahun terakhir.
Yang menarik, peningkatan itu tidak hanya terlihat dari sisi kuantitas. Perempuan kini juga hadir pada hampir seluruh jenjang organisasi, mulai dari pelaksana, supervisor, assistant manager, senior manager, vice president, hingga executive vice president.
Angka-angka itu mungkin tampak sederhana. Namun jika dilihat lebih jauh, data tersebut menggambarkan perubahan budaya yang sedang berlangsung di dalam perusahaan.
Ruang yang Semakin Terbuka
Di perusahaan seperti KAI, keberagaman bukan sekadar soal komposisi pegawai. Semakin beragam latar belakang orang-orang yang bekerja di dalamnya, semakin kaya pula cara perusahaan memahami kebutuhan masyarakat yang dilayaninya.
Karena itu, kehadiran perempuan di berbagai fungsi kerja memiliki arti yang lebih luas dibanding sekadar bertambahnya jumlah pegawai.
Di bidang operasional, mereka menjalankan tanggung jawab yang sama dengan rekan-rekan laki-lakinya. Standar kompetensi, sertifikasi, disiplin kerja, hingga tanggung jawab terhadap keselamatan perjalanan tetap berlaku sama. Hal serupa juga terlihat pada bidang-bidang lain yang selama ini lebih banyak diisi laki-laki.
Tidak ada jalur khusus. Tidak ada standar yang dipermudah.
Yang menjadi pembeda tetaplah kompetensi, integritas, dan kinerja.
Perubahan itu juga terlihat pada struktur kepemimpinan perusahaan. Salah satu anggota Direksi KAI saat ini adalah Atih Nurhayati, yang dipercaya mengemban amanah sebagai Direktur Sumber Daya Manusia. Kehadirannya menjadi gambaran bahwa ruang kepemimpinan di KAI semakin terbuka bagi perempuan yang memiliki kapasitas dan pengalaman.
Tak hanya itu, di berbagai daerah operasi, divisi, hingga kantor pusat, juga semakin banyak perempuan dipercaya memimpin unit kerja, mengelola tim, mengambil keputusan, dan memastikan roda organisasi berjalan dengan baik. Mereka datang dari latar belakang profesi yang beragam, membawa pengalaman yang berbeda, sekaligus memperkaya cara organisasi melihat berbagai persoalan.
Keberagaman perspektif inilah yang kemudian menjadi salah satu kekuatan perusahaan.
Berbagai studi manajemen menunjukkan bahwa organisasi dengan kepemimpinan yang lebih beragam cenderung memiliki kemampuan yang lebih baik dalam memahami pelanggan, mengelola risiko, dan mengambil keputusan. Bagi perusahaan jasa seperti KAI, hal tersebut menjadi modal penting karena setiap hari perusahaan melayani jutaan orang dengan kebutuhan yang berbeda-beda.

Budaya yang Terus Bertumbuh
Membuka kesempatan tentu bukan satu-satunya pekerjaan rumah.
Lingkungan kerja juga harus mampu membuat setiap pekerja merasa aman, dihargai, dan memiliki kesempatan berkembang.
Dalam beberapa tahun terakhir, KAI terus memperkuat berbagai kebijakan yang mendukung pekerja perempuan. Perusahaan menyediakan ruang laktasi di berbagai lokasi kerja, memperkuat perlindungan terhadap kekerasan dan pelecehan di lingkungan kerja, mengembangkan program kesehatan pekerja perempuan, hingga memperluas kesempatan pengembangan kompetensi dan karier.
Perhatian tersebut mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Pada 2025, KAI menerima penghargaan Best Woman Empowerment Company atas komitmen perusahaan dalam mendukung pemberdayaan perempuan di lingkungan kerja. Sebelumnya, Komnas Perempuan juga memberikan penghargaan kepada KAI atas berbagai langkah yang dilakukan dalam membangun ruang kerja yang lebih aman dan bebas dari kekerasan.
Penghargaan tentu membanggakan. Namun yang lebih penting adalah budaya kerja yang terus bertumbuh. Ketika pekerja merasa dihargai dan memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang, mereka akan lebih leluasa memberikan kontribusi terbaiknya kepada perusahaan.

Dampaknya Terasa hingga ke Pelanggan
Perubahan di dalam organisasi ternyata ikut membentuk cara KAI melayani masyarakat.
Semakin banyak perspektif yang hadir dalam proses pengambilan keputusan membuat perusahaan lebih peka terhadap kebutuhan pelanggan, termasuk pelanggan perempuan.
Beberapa tahun terakhir, berbagai layanan yang lebih ramah perempuan terus dikembangkan. Salah satunya adalah Female Seat Map pada aplikasi Access by KAI. Lewat fitur ini, pelanggan perempuan dapat memilih tempat duduk yang berdekatan dengan sesama perempuan saat melakukan pemesanan tiket kereta antarkota. Fitur sederhana tersebut lahir dari kebutuhan nyata pelanggan yang menginginkan rasa aman dan nyaman selama perjalanan.
Perhatian serupa juga terlihat di stasiun dan dalam perjalanan kereta api. KAI menyediakan ruang laktasi, kursi prioritas dan pin khusus bagi ibu hamil, toilet yang terpisah antara laki-laki dan perempuan pada layanan kereta jarak jauh, area bermain anak di sejumlah stasiun, hingga fasilitas yang semakin ramah bagi penyandang disabilitas.
Dari sisi keamanan, perusahaan terus memperkuat sistem pengawasan melalui CCTV Analytics, integrasi Command Center, peningkatan standar penanganan laporan, serta kerja sama dengan Komnas Perempuan dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak dalam menciptakan transportasi publik yang lebih aman bagi perempuan dan anak.
Perjalanan yang nyaman tidak hanya ditentukan oleh ketepatan waktu atau kebersihan kereta. Ada rasa aman yang juga perlu dijaga. Ada keyakinan bahwa setiap pelanggan dapat bepergian tanpa rasa khawatir. Di titik itulah budaya perusahaan dan kualitas layanan saling bertemu.
Kereta api terus bergerak menghubungkan kota demi kota. Bersamaan dengan itu, organisasi yang menggerakkannya juga terus bertumbuh. Di dalam perjalanan tersebut, perempuan bukan lagi sekadar bagian dari cerita. Mereka ikut menentukan ke mana arah perjalanan itu dibawa.