Baginya, transformasi bukan sekadar mengadopsi teknologi, tetapi mengubah cara kerja dari hanya mengandalkan pengalaman menuju keputusan berbasis data.
Muhammad Arifudin memulai kariernya di dunia perkeretaapian dari bawah. Perjalanannya berawal saat ia bergabung di KAI melalui program kuliah ikatan dinas D3KA Teknik Sipil Institut Teknologi Bandung (ITB) pada 1996. Empat tahun kemudian, setelah menamatkan pendidikan, ia ditugaskan sebagai pelaksana di DAOP 8 Surabaya.
“Jadi, saya memang tumbuh dan berproses di lingkungan teknis perkeretaapian sejak masa pendidikan hingga awal karier saya,” terang Arifudin.
Di masa itu, Arif menyaksikan langsung wajah perkeretaapian yang jauh berbeda dari hari ini. Saat itu, banyak proses masih berjalan secara manual, teknologi belum menjadi tulang punggung, dan arah transformasi belum sepenuhnya terlihat. Namun, justru dari kondisi itulah ia melihat satu hal, potensi besar yang suatu saat akan menemukan momentumnya.
“Waktu itu KAI belum bertransformasi seperti sekarang. Tapi, saya percaya ketika momentum itu datang, KAI akan berubah dengan cepat.”
Momentum itu, menurutnya, benar-benar datang. Dan ketika perubahan mulai bergerak, KAI tidak berjalan pelan, melainkan berlari kencang.
Lompatan yang Mengubah Cara Bekerja
Bagi Arifudin, perubahan paling terasa dapat dilihat dari cara prasarana dikelola. Jika dahulu perawatan rel dan jembatan cenderung konservatif dan sangat bergantung pada pengalaman lapangan, kini pendekatannya beralih menjadi lebih modern dan berbasis teknologi.
Perubahan ini tidak terjadi tanpa alasan. Frekuensi perjalanan kereta yang semakin tinggi menuntut tingkat keandalan yang tidak lagi dapat ditopang oleh cara-cara lama. Di sisi lain, kondisi geografis Indonesia, dari tanah labil hingga potensi bencana, mendorong hadirnya sistem deteksi yang lebih cepat dan akurat. Dari sinilah transformasi menjadi kebutuhan, bukan lagi pilihan.
Arifudin sendiri pernah berada di fase krusial perubahan tersebut saat menjabat sebagai VP Infrastruktur Aset. Pada periode itu, ia mulai merintis integrasi data berbasis GIS, pemetaan 3D Point Cloud, hingga pengembangan sistem monitoring prasarana berbasis IoT melalui aplikasi Monika. Peralihan dari pencatatan manual menuju sistem berbasis data menjadi titik balik penting dalam pengelolaan prasarana.
“Melihat transisi dari manual menuju sistem berbasis data yang akurat adalah pencapaian yang sangat berkesan bagi saya. Dari situ kita bisa mulai bergerak ke arah perawatan yang lebih prediktif.”
Kini, pengelolaan prasarana tidak lagi hanya berfokus pada perbaikan saat terjadi kerusakan, tetapi juga pada kemampuan memprediksi potensi gangguan sebelum terjadi. Dengan dukungan big data analytics, setiap keputusan, mulai dari perencanaan material hingga penjadwalan perawatan diupayakan berbasis data yang terukur.
Membangun Masa Depan Berbasis Data
Sebagai EVP Track and Bridge, Arifudin memegang tanggung jawab besar dalam memastikan keandalan dan keselamatan infrastruktur di seluruh wilayah operasi. Namun, baginya, tantangan ini tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan jangka pendek, satu atau dua tahun saja, melainkan lima tahun ke depan. Semua itu hanya bisa dicapai jika perusahaan memiliki data yang akurat dan terintegrasi.
Melalui sistem seperti TraMMS dan penguatan ekosistem digital lainnya, KAI mulai membangun fondasi menuju pengelolaan prasarana yang lebih terstruktur. Ke depan, arah yang dituju adalah Smart & Reliable Infrastructure, sebuah sistem yang mampu “berbicara” melalui data dan memberikan sinyal sebelum masalah muncul.
Upaya ini juga diperkuat dengan pembelajaran dari praktik global. Bagi Arifudin, seluruh langkah tersebut bermuara pada satu tujuan: menghadirkan operasional yang andal dan aman.
Pentingnya Belajar dan Disiplin
Di tengah transformasi yang terus bergulir, ia berpesan kepada generasi muda KAI untuk terus mengembangkan diri. Menurutnya, Gen Z memiliki keunggulan dalam daya adaptasi dan kemampuan belajar yang cepat.
Ia mendorong agar setiap peluang untuk belajar dimanfaatkan sebaik mungkin, karena pengetahuan yang dimiliki suatu saat akan menjadi kontribusi nyata bagi perusahaan. Namun, ia juga mengingatkan pentingnya kedisiplinan agar kemampuan yang dimiliki dapat berjalan seiring dengan tanggung jawab.
“Saya kira, kombinasi ini menjadi bekal yang kuat bagi generasi muda KAI sehingga bisa membawa perusahaan lebih maju dari hari ini.”