Pada dua bulan awal 2026 telah lebih dari 1,7 juta pelanggan telah memanfaatkan kemudahan boarding tanpa tiket fisik. Tak hanya mempercepat layanan, tetapi mampu menghadirkan efisiensi biaya dan lebih ramah lingkungan.
Transformasi digital di lingkungan PT Kereta Api Indonesia (Persero) terus menunjukkan dampak nyata. Salah satunya melalui pemanfaatan teknologi face recognition yang kini semakin luas digunakan pelanggan. Pada periode Januari hingga Februari 2026, sebanyak 1.707.942 pelanggan memanfaatkan layanan ini saat proses boarding, meningkat dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Adopsi teknologi ini mengubah cara pelanggan mengakses perjalanan. Proses boarding menjadi jauh lebih ringkas karena pelanggan tidak lagi perlu mencetak tiket atau menunjukkan identitas secara manual. Sistem akan melakukan verifikasi otomatis melalui pemindaian wajah yang terintegrasi dengan data perjalanan. Hasilnya, antrean menjadi lebih singkat, alur pergerakan penumpang lebih lancar, dan pengalaman perjalanan menjadi lebih efisien.

Di balik kemudahan tersebut, terdapat dampak efisiensi yang signifikan. Penggunaan face recognition dalam dua bulan pertama 2026 telah menggantikan kebutuhan pencetakan lebih dari 1,7 juta tiket. Jika dikonversi, hal ini setara dengan penghematan sekitar 4.270 roll kertas tiket, atau lebih dari Rp63 juta biaya pengadaan. Angka ini bukan hanya mencerminkan efisiensi operasional, tetapi juga menunjukkan bagaimana teknologi mampu menekan biaya tanpa mengurangi kualitas layanan.
Tren ini juga terlihat konsisten dalam beberapa tahun terakhir. Sepanjang 2025, teknologi ini digunakan oleh lebih dari 11 juta pelanggan, sementara pada 2024 dan 2023 masing-masing mencatat jutaan pengguna dengan pertumbuhan yang terus meningkat. Artinya, digitalisasi layanan bukan lagi sekadar inovasi, tetapi telah menjadi bagian dari kebiasaan baru pelanggan dalam menggunakan transportasi publik.
Lebih dari itu, dampak positif juga terasa pada aspek lingkungan. Dengan asumsi panjang satu tiket sekitar 18 cm, penggunaan face recognition pada awal 2026 telah mengurangi kebutuhan kertas hingga sekitar 307 kilometer. Pengurangan ini menjadi penting karena produksi kertas berkaitan langsung dengan penggunaan sumber daya alam, terutama kayu sebagai bahan baku. Semakin sedikit tiket yang dicetak, semakin kecil pula tekanan terhadap lingkungan.
Saat ini, layanan face recognition telah tersedia di 22 stasiun utama di berbagai kota besar, mulai dari Jakarta, Bandung, Yogyakarta, hingga Surabaya dan Medan. Kehadiran teknologi ini memperkuat ekosistem layanan digital KAI, sekaligus memastikan pelanggan di berbagai wilayah dapat menikmati kemudahan yang sama.
Ke depan, pengembangan layanan berbasis digital akan terus diperluas. Dengan semakin banyak pelanggan yang beralih ke sistem ini, KAI tidak hanya mempercepat proses perjalanan, tetapi juga membangun fondasi transportasi publik yang lebih cerdas, praktis, dan bertanggung jawab terhadap lingkungan.