“Masinis yang Melintas Badai” Dibedah di Matraman

Dinamika yang dihadapi KAI selama periode krisis pandemi menjadi pelajaran penting yang bermanfaat hingga kapan pun. Terdokumentasi dengan baik dalam buku ini.

Bertempat di Gramedia Makarya Matraman, Jakarta, pada Rabu, 30 Juli 2025 digelar bedah buku yang merekam jejak perjalanan Direktur Utama KAI Didiek Hartantyo dalam memimpin transformasi KAI. Buku berjudul “Masinis yang Melintasi Badai” ini tidak sekadar mendokumentasikan perjalanan Didiek dalam memimpin KAI, tetapi juga mengurai pengalaman-pengalaman penting KAI dalam melewati krisis penting selama masa pandemi.

Seperti diketahui, selama masa pandemi yang memberikan pukulan hebat bagi KAI, KAI berhasil melewatinya tanpa melakukan satu pun pemutusan hubungan kerja. Langkah ini terbilang luar biasa mengingat banyak perusahaan lain justru harus terpaksa memilih efisiensi ekstrem. Saat itu, KAI justru melindungi setiap Insan KAI dan mendorong inovasi secara berkelanjutan.

Salah satu kunci penting KAI dalam melewati masa-masa berat ini ialah transformasi. “Transformasi bukan soal sistem, ini soal karakter. Soal keberanian untuk tetap manusia di tengah badai,” ucap Didiek.

Didiek menambahkan, setiap keputusan yang harus diambil oleh pemimpin, mestilah berangkat dari keyakinan yang kuat dan bukan berasal dari ketakutan. “Kita tidak boleh lebih kecil dari masalah. Kita harus lebih besar dari tantangan karena setiap krisis menyimpan peluang,” imbuhnya.

Zulfikar Akbar, penulis buku ini, membagikan pengalamannya saat menulis buku ini. Menurutnya, buku ini adalah bentuk apresiasi terhadap keberanian yang tidak bicara banyak, tetapi memberi dampak besar.

Hal senada juga disampaikan oleh Wisnu Nugroho, VP Sustainability KG Media, yang menyebut Didiek sebagai pemimpin yang menjalankan dua peran penting sekaligus: pemimpin formal dan pemimpin informal.

Sebagai pemimpin formal, Wisnu memandang Didiek sebagai pemimpin yang mampu menggerakkan struktur besar. Sementara sebagai pemimpin informal, Didiek tampil sebagai teladan yang membangun budaya perusahaan.

“Pak Didiek datang di saat yang paling sulit. Tapi justru dari situlah beliau menanam nilai. Kepemimpinan yang tidak mengeluh, tidak menyalahkan, tapi justru menghadirkan perubahan,” ungkap Wisnu.

Share Artikel

Hubungi Kami