Bagi Iqbal, prinsip melayani tak ubahnya langit tanpa batas. Tak ada batas untuk berhenti, yang ada ialah upaya terus-menerus untuk menghadirkan layanan terbaik bagi pengguna kereta api.
Iqbal T. Iskandar tak pernah membayangkan bahwa keputusan yang ia ambil semasa kuliah akan membawanya pada perjalanan panjang di dunia perkeretaapian. Pada 1996, saat menjalani kuliah semester tujuh, ia melihat pengumuman rekrutmen KAI. Di masa ketika pilihan pekerjaan terbatas dan KAI belum menjadi perusahaan yang diminati seperti sekarang, ia mendaftar tanpa banyak pertimbangan.
“Ternyata saya diterima. Karena ditempatkan di Stasiun Pegaden Baru, lokasinya cukup jauh dari kampus saya di Cirebon, saya memutuskan cuti. KAI menjadi karier pertama yang saya tekuni sampai hari ini,” kenang Iqbal.
Di stasiun Kelas I itu, Iqbal memulai perjalanan kariernya sebagai pelaksana. Tugasnya ialah sebagai juru langsir dan menjaga pintu perlintasan. Sembilan tahun menyandang profesi sebagai PPKA, ia kemudian diamanahi beragam posisi strategis, seperti Senior Safety Inspector, Senior Manager Operasi, Senior Manager DIVRE IV, Senior Manager DAOP I Jakarta, Vice President Operation Management, dan Vice President Operation Personnel.
Setelah hampir tiga dekade menjalani karier di KAI, ia kini diamanahi tanggung jawab baru, yakni Executive Vice President Operation Management.
Merencanakan, Mengendalikan, dan Mengevaluasi Perjalanan Kereta Api
Sebagai EVP OM KAI, tanggung jawabnya mencakup perencanaan, pengendalian, dan evaluasi perjalanan kereta api. Fokus utama divisi ini ialah merancang perjalanan kereta api dan memastikan ketersediaan sarana yang siap beroperasi.
Dalam praktiknya, proses tersebut tidak sesederhana menyusun rencana di atas kertas. Merancang perjalanan kereta api tidak pernah berdiri sendiri. Di balik setiap keputusan perencanaan operasional, ada koordinasi lintas unit yang kompleks, mulai dari kesiapan sarana, prasarana, hingga kru yang bertugas. Semua aspek tersebut saling memengaruhi dan hanya dapat berjalan bila komunikasi antardirektorat berjalan selaras.
Di titik ini, tantangan utama bukan lagi soal teknis, melainkan soal kolaborasi. Operation Management dapat menyusun perjalanan ketika sarana, prasarana, dan target pelayanan dari direktorat komersial berjalan dalam ritme yang sama. Jumlah kereta, jenis layanan, target penumpang atau barang, hingga rute yang dikembangkan, semuanya harus dianalisis bersama sebagai satu ekosistem transportasi.
Namun bagi Iqbal, merencanakan perjalanan kereta api saja tidak cukup. Ia memiliki visi, di masa depan, Divisi Operation Management harus mampu membaca kebutuhan pasar, berapa banyak kereta yang dibutuhkan, rute mana yang harus diperkuat, dan layanan baru yang perlu dihadirkan oleh KAI.
Ia mencontohkan, rute yang saat ini padat seperti Gambir–Yogyakarta bisa berubah, sementara lintas lain seperti Banyuwangi, berpotensi tumbuh dan membutuhkan layanan baru. Perubahan permintaan pasar, pola mobilitas penumpang, hingga pertumbuhan logistik menjadi dasar yang penting dalam merencanakan perjalanan kereta api.
“Ke depan, OM harus mampu merencanakan perjalanan kereta api yang lebih memenuhi kebutuhan pasar sehingga meningkatkan revenue perusahaan. Ini penting karena pendapatan terbesar KAI saat ini berasal dari angkutan penumpang dan angkutan barang,” jelas Iqbal.
Mengisi Waktu Luang dengan Berkebun
Di tengah ritme pekerjaan yang padat, ia memiliki cara untuk menjaga keseimbangan hidup. Berkebun menjadi cara Iqbal untuk mengisi waktu luang sekaligus menenangkan hati dan pikiran. Baginya, berkebun juga mengajarkan banyak pelajaran hidup. Dari proses menanam hingga menunggu pohon berbuah, ia belajar bahwa segala sesuatu membutuhkan waktu, tidak ada yang instan dalam pekerjaan maupun kehidupan.
Dari berkebun pula ia memahami pentingnya proses. Mulai dari menanam bibit, merawat tanah, memberi pupuk dengan takaran yang tepat, hingga menjaga tanaman tetap tumbuh sehat, semua membutuhkan ketelitian dan kesabaran. Di situ, ia menemukan disiplin, konsistensi, dan kesadaran bahwa hasil terbaik hanya lahir dari usaha yang dirawat setiap hari.
“Berkebun juga mengajarkan kita untuk terus berkembang dan patuh pada aturan. Misalnya, dosis pupuk harus tepat, tidak boleh kurang atau berlebihan agar tanaman tumbuh sehat.”
Prinsip ini juga berlaku dalam bekerja. Setiap Insan Kereta Api dituntut untuk terus mengembangkan diri dan patuh pada aturan. Kemauan dan kemampuan untuk terus mengembangkan diri dan layanan sangat penting bagi kelangsungan perusahaan. Pencapaian yang ditorehkan KAI hari ini tak boleh membuat seluruh Insan Kereta Api terlena dan berhenti memberikan yang terbaik.
“Prinsip dari pelayanan itu seperti langit tanpa batas. Jangan sampai karena merasa sudah baik, kemudian kita terlena dan berhenti berupaya untuk memberikan yang terbaik kepada pengguna kereta api.”