Dedikasinya di bidang perkeretaapian pada akhirnya bermuara pada satu tujuan, memberikan layanan terbaik bagi masyarakat dan berkontribusi bagi kemajuan Indonesia.
Lebih dari tiga dekade lalu, Dominicus Agung Wawan Purnawan memulai kariernya di dunia perkeretaapian melalui jalur beasiswa pendidikan yang diinisiasi oleh Perusahaan Umum Kereta Api (Perumka) dan Institut Teknologi Bandung (ITB). Berstatus sebagai mahasiswa teknik mesin, ia mengakui belum memiliki gambaran spesifik mengenai bidang perkeretaapian. Namun, seiring proses belajar, berbagai materi teknis seperti interaksi antara roda dan rel, mulai membangkitkan rasa ingin tahunya yang kemudian menuntunnya untuk semakin mendalami dunia perkeretaapian.
“Semakin lama semakin tertarik karena belajar hal yang spesifik. Sebagai anak muda yang baru lulus SMA, masuk ke dunia pendidikan yang spesifik, curiosity-nya terpancing,” kenang Agung.
Selepas menamatkan pendidikan, ia memulai perjalanan profesionalnya di Perumka sebagai Tim Inventarisasi Aktiva Tetap. Tugasnya ialah menginventarisasi seluruh aset milik perusahaan sebagai bagian persiapan peralihan status perusahaan dari Perumka menjadi Persero. Setelah tugas ini berakhir, ia ditempatkan di Subdirektorat Balai Yasa dan menjadi bagian dari tim proyek efisiensi perkeretaapian.
“Tim kami bertugas untuk menekan downtime dengan mengimplementasikan unit exchange system. Program ini mendapat dukungan teknis dan pendanaan dari World Bank. Setelah terimplementasi, saya kemudian dipindahkan ke Balai Yasa Yogyakarta.”
Menumbuhkan Motivasi pada Insan KAI
Dedikasi yang ia tunjukkan selama bertahun-tahun membuatnya dipercaya mengampu berbagai posisi strategis di dalam perusahaan. Perjalanan panjang itu akhirnya membawanya dipercaya sebagai EVP of Rollingstock Maintenance. Sebagai penanggung jawab perawatan rolling stock di KAI, ia tak hanya mengawasi pelaksanaan perawatan, tetapi juga merancang master plan, roadmap, serta program strategis yang menjadi acuan bagi seluruh unit perawatan sarana.
Seiring perkembangan teknologi dan dinamika operasional, sistem perawatan di KAI pun terus bertransformasi. Jika dahulu perawatan dilakukan secara time-based, kini pendekatan itu digantikan dengan sistem kilometer-based atau mileage-based. Perubahan besar ini, yang mulai diterapkan saat pandemi Covid-19, membuat perawatan dilakukan berdasarkan jarak tempuh operasional. Dengan cara ini, sumber daya dan anggaran perusahaan dapat dimanfaatkan lebih efisien tanpa mengurangi standar keselamatan.
Bagi Agung, keberhasilan sistem perawatan tidak hanya bergantung pada mesin dan metode, tetapi juga pada manusia yang menjalankannya. Karena itu, ia menaruh perhatian besar pada pembinaan teknis dan pengembangan kompetensi tim di lapangan. Melalui sharing session dan kunjungan rutin ke Depo dan Balai Yasa, ia mendorong tumbuhnya motivasi dari dalam diri setiap Insan KAI.
“Kalau datang dari kesadaran pribadi, hasilnya akan lebih kuat dan membekas. Kunjungan ke lapangan atau sharing session ini terus kami gulirkan secara konsisten,” terang Agung.
Inovasi untuk Indonesia
Dalam upaya meningkatkan keandalan sarana dan efisiensi operasional, KAI terus mendorong transformasi digital dan otomatisasi di berbagai bidang, termasuk di rolling stock maintenance. Agung menjelaskan, digitalisasi tidak sekadar tren, melainkan kebutuhan strategis agar sistem perawatan tetap relevan dengan perkembangan zaman
Transformasi ini ditandai dengan pergeseran dari corrective maintenance menuju predictive dan prescriptive maintenance. KAI telah mulai memasang sensor di lokomotif dan kereta pembangkit untuk memantau kondisi komponen secara real time. Langkah ini memungkinkan perusahaan memprediksi potensi kerusakan sebelum terjadi dan menekan risiko gangguan operasional. Selain itu, pengujian keretakan pada as roda juga tengah diarahkan menuju sistem otomatis yang dapat mengurangi human error.
Inovasi lain yang tengah dikembangkan ialah penerapan condition-based maintenance, terutama untuk penggantian pelumas. Jika sebelumnya penggantian dilakukan time-based, kini dilakukan berdasarkan kondisi aktual minyak pelumas. Pendekatan ini tidak hanya efisien secara biaya, tetapi juga mendukung agenda keberlanjutan karena mengurangi penggunaan minyak mineral.
Sejalan dengan semangat go green, KAI juga beradaptasi terhadap kebijakan penggunaan bahan bakar nabati, beralih dari B0 menjadi B40, dan menuju B50 di tahun depan, serta mulai merancang konversi sarana penggerak dari mesin diesel ke sistem berbasis listrik atau baterai. Selain digitalisasi, KAI juga memodifikasi kereta ekonomi dari 106 kursi menjadi 72 kursi yang dilengkapi fitur recline dan revolving seat, dan mengganti sistem pendingin dari AC split menjadi AC package.
Berbagai upaya yang telah dan tengah dilakukan oleh KAI pada akhinya bertujuan untuk menjadi solusi bagi masyarakat Indonesia. “Saya berharap, KAI bisa benar-benar berdampak dan meningkatkan kemajuan bangsa. Perusahaan kita dimiliki 100 persen oleh negara. Oleh karena itu, kita harus memberikan kontribusi terbaik bagi bangsa ini.”