Jalur bersejarah ini kini dimanfaatkan menjadi layanan kereta api wisata dan menjadi salah satu situs Warisan Budaya Dunia UNESCO.
1868
Pembangunan jalur kereta api di Sumatera Barat tidak dapat dipisahkan dari penemuan “emas hitam”, yaitu batu bara. Segalanya bermula pada tahun 1868 ketika lapisan batu bara berkualitas tinggi ditemukan di Ombilin, Sawahlunto. Temuan ini segera menarik perhatian Pemerintah Hindia Belanda, karena batu bara pada masa itu merupakan sumber energi penting bagi kebutuhan industri dan transportasi.
1873
Pada tahun 1873, J.L. Cluysenaer melakukan penelitian untuk mencari cara mengangkut batu bara dari Sawahlunto menuju Pantai Barat Sumatra. Hasil penelitian tersebut melahirkan usulan pembangunan jalur kereta api dari Muaro Kalaban ke Padang melalui Solok dengan menembus Pegunungan Bukit Barisan. Dalam perkembangannya, rencana jalur diubah agar melewati Lembah Anai dengan penggunaan teknologi rel bergigi, sehingga kereta mampu melintasi medan dengan tanjakan curam.
1887
Meski rencana telah disusun, pembangunan sempat tertunda karena keterbatasan biaya. Persetujuan baru diberikan pada tahun 1887 setelah pemerintah menyadari pentingnya jalur kereta api untuk menghubungkan kota-kota strategis di Sumatera Barat sekaligus memperlancar distribusi batu bara dari wilayah tambang.
1889
Langkah konkret dimulai pada tahun 1889 ketika Kepala Perkeretaapian A. Derx melakukan inspeksi lapangan. Ia mempersiapkan kebutuhan konstruksi, memetakan lahan, serta melakukan negosiasi pembebasan tanah dengan masyarakat setempat. Proyek besar ini kemudian dikelola oleh Staatsspoorwegen ter Sumatra’s Westkust (SSS) di bawah pimpinan insinyur J.W. Ijzweman.
1894
Pembangunan jalur melibatkan tenaga kerja dari berbagai daerah dan latar belakang, mulai dari masyarakat Minangkabau, Nias, Jawa, hingga Tionghoa. Dari Muaro Kalaban, jalur kemudian dibelokkan menuju Sawahlunto sepanjang kurang lebih empat kilometer. Pada lintasan ini dibangun terowongan sepanjang 825 meter yang menjadi salah satu pencapaian teknik penting pada masanya. Jalur Muaro Kalaban – Sawahlunto akhirnya resmi beroperasi pada 1 Januari 1894.
Hari Ini
Setelah sempat berhenti beroperasi, jalur bersejarah ini kini dimanfaatkan sebagai layanan kereta wisata. Pada tahun 2022, lokomotif uap legendaris E1060 atau yang dikenal sebagai “Mak Itam” berhasil direstorasi. Saat ini, jalur Muaro Kalaban – Sawahlunto menjadi bagian dari Situs Warisan Budaya Dunia UNESCO, menegaskan nilainya sebagai warisan sejarah perkeretaapian Indonesia.