Subandi meyakini bahwa keterampilan bukanlah sesuatu yang sepenuhnya dibawa sejak lahir, melainkan dibentuk oleh kemauan untuk terus belajar. Keyakinan itu menjadi fondasi cara ia bekerja dan memimpin.
Menyandang status sebagai mahasiswa Institut Teknologi Bandung (ITB), Subandi Solihin bergabung di KAI pada 1993. Sesuai dengan latar pendidikannya di program studi Teknik Elektro, ia yang merampungkan pendidikannya di ITB pada 1996, kemudian ditugaskan di Daerah Operasi (DAOP) 5 Purwokerto di unit Sinyal dan Telekomunikasi (Sintel).
Banyak pengalaman berkesan yang dirasakannya selama 17 tahun berkiprah di unit sintel, salah satunya saat dilibatkan dalam proyek resignaling di lintas utara Jawa, dari Cirebon, Pekalongan, hingga Semarang. Saat itu, KAI tengah beralih dari sistem persinyalan konvensional menuju teknologi persinyalan berbasis komputer.
“Ini menyenangkan buat saya kerena saya senang belajar hal-hal baru, senang mencoba teknologi baru. Walaupun saat itu akses informasi sangat terbatas, saya belajar dari manual book dan membaca banyak literatur,” kenang Subandi.
Pengalaman panjang di lapangan membuat Subandi sangat memahami dunia operasional. Namun seiring waktu, ia menyadari bahwa tuntutan organisasi menuntut cara berpikir yang berbeda. Momen reflektif itu datang dari proses asesmen yang ia jalani. Dari sana, ia mendapat saran dari asesor untuk memperkaya pengetahuan tentang leadership.
Saran tersebut disambutnya dengan antusias. Ia pun mulai memperdalam pengetahuan mengenai teori-teori leadership. Namun, pada asesmen berikutnya, ia kembali disadarkan bahwa pengalamannya di bidang operasional membuat pola pikirnya cenderung berorientasi pada penyelesaian masalah jangka pendek. Dari titik itulah ia mulai mendalami strategic thinking, berupaya mengubah mindset operasional menuju pola pikir yang lebih strategis.
“Kita mungkin tidak terlahir dengan bakat atau kemampuan tertentu, tapi dengan belajar kita bisa mencapainya. Saya dulu takut ketinggian. Saya belajar mengatasi rasa takut dan hari ini saya sudah tidak lagi takut ketinggian.”
Transformasi Digital Berbasis Kebutuhan
Mengampu jabatan sebagai Executive Vice President of Information Technology KAI sejak November 2025, Subandi menilai bahwa peran IT di dalam perusahaan harus berangkat dari persoalan nyata yang dihadapi oleh organisasi. Di perusahaan yang padat karya seperti KAI, ia melihat banyak pekerjaan administratif yang berulang dan menyita energi. Dari kesadaran itulah KAI mulai memperkenalkan robotic process automation sejak beberapa tahun lalu, bahkan sebelum isu kecerdasan buatan ramai dibicarakan.
Melalui otomasi, ia ingin mendorong pergeseran peran manusia ke pekerjaan yang lebih bernilai. Pekerjaan repetitif, menurutnya, tidak lagi relevan dikerjakan secara manual. Sejumlah use case pun mulai diterapkan untuk mengurangi beban administratif. Namun, ia menilai dampaknya akan jauh lebih kuat jika adopsi teknologi tidak hanya berhenti di unit IT, melainkan juga dimanfaatkan oleh fungsi lain seperti keuangan dan sumber daya manusia.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa pemanfaatan teknologi informasi di dalam perusahaan tidak boleh berjalan tanpa arah. KAI memiliki tiga revenue stream, yaitu angkutan orang, angkutan barang, dan pengelolaan aset. Karena itu, setiap pengembangan teknologi dan inovasi harus selaras dengan tujuan bisnis, yakni meningkatkan pendapatan perusahaan. Di saat yang sama, teknologi juga harus dirancang untuk menekan biaya melalui berbagai proses bisnis yang berorientasi pada efisiensi.
“Selain revenue up dan cost down, IT harus berperan agar masyarakat atau pengguna kereta api semakin mencintai produk atau layanan KAI.”
Terus Belajar dan Membangun Kebiasaan Baik
Bagi Subandi, agar KAI dapat terus bergerak maju, transformasi menjadi keniscayaan. Namun, transformasi membutuhkan dukungan teknologi yang tepat. Karena itu, IT diposisikan sebagai enabler yang memastikan kebutuhan bisnis dan agenda perubahan perusahaan dapat dijalankan secara berkelanjutan, sekaligus membuka ruang inovasi untuk mendorong pertumbuhan dan efisiensi.
“Sesuai amanat dari Pak DZ, KAI tak boleh hanya jago kandang, tetapi harus go global, yakni eksis di level ASEAN, bahkan Asia. Tugas kami ialah mendukung KAI mencapai tujuan tersebut,” terang Subandi.
Untuk mencapai tujuan tersebut, ia berpesan kepada seluruh Insan KAI agar tak pernah berhenti belajar. Ia meyakini, keberhasilan organisasi berawal dari manusia yang mau terus belajar, membangun kebiasaan baik, dan memiliki growth mindset.
“Apa yang kita pelajari tidak akan sia-sia dan kebiasaan baik, sekecil apa pun itu, akan menjadi habit yang mengubah jalan hidup kita, mengubah nasib kita menjadi lebih baik dari yang seharusnya.”