Baginya, Corporate University bukan sekadar tempat menyelenggarakan pelatihan, melainkan mitra strategis yang memastikan setiap proses pembelajaran memberikan dampak nyata bagi kemajuan perusahaan.
Perubahan besar tidak selalu dimulai dari teknologi atau pembangunan infrastruktur. Di KAI, salah satu transformasi penting justru terjadi pada cara perusahaan membangun manusianya. Perubahan ini turut menggeser pola pendidikan dan pelatihan di dalam perusahaan, dari sekadar memenuhi kebutuhan kompetensi menjadi bagian dari strategi bisnis.
Perjalanan perubahan tersebut menjadi bagian dari kiprah Ida Hidayati Hudyana. Setelah memimpin Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) KAI pada 2020 dan mengemban penugasan di unit lain, pada 2024 ia kembali untuk memimpin transformasi Pusdiklat menjadi KAI Corporate University, pusat pengembangan talenta bagi seluruh insan KAI Group.
“Dulu pendidikan dan pelatihan lebih berorientasi memenuhi kebutuhan rutin dan kepatuhan terhadap aturan. Sekarang kami ingin memastikan setiap pembelajaran benar-benar mendukung strategi bisnis perusahaan,” ucap Ida.
Dari Pusdiklat Menuju Corporate University
Menurut Ida, perubahan dari Pusdiklat menjadi Corporate University bukan sekadar pergantian nama. Yang berubah adalah cara perusahaan memandang pendidikan dan pelatihan pekerja sebagai mitra dalam mendukung kesuksesan bisnis perusahaan. Perubahan paradigma tersebut diwujudkan melalui adopsi pengelolaan manajemen pendidikan universitas ke dalam manajemen pendidikan dan pelatihan korporasi.
Pada Corporate University, Pengembangan pembelajaran (learning and development) kini dibagi ke dalam lima akademi yang masing-masing dipimpin seorang dekan. Setiap akademi bertanggung jawab menyusun kurikulum, mengembangkan materi, hingga memastikan kompetensi yang dibangun selaras dengan kebutuhan bidangnya yang berkolaborasi dengan berbagai unsur seperti unit lain (sebagai learning business partner) dan learning partner terkait.
Transformasi ini juga menghadirkan sistem pembelajaran yang lebih fleksibel. Pelatihan tidak lagi bergantung pada satu lokasi, tetapi dapat diselenggarakan di berbagai Campus (Agus Suroto Dago, Laswi, Ascep Sunarto Palembang, Sofyan Hadi Bekasi, Darman Prasetyo Yogyakarta) dengan standar kurikulum, fasilitas, dan kualitas pengajar yang sama dan terkontrol oleh Academy pemilik program.
Di saat yang sama, KAI membangun ekosistem pembelajaran digital melalui Learning Management System (LMS) dan Knowledge Management System (KMS). Pengetahuan para ahli mulai didokumentasikan dan dibagikan agar tetap menjadi aset perusahaan, bahkan ketika mereka memasuki masa purnatugas.
“Banyak orang pintar di KAI, tapi sering kali ketika mereka pensiun, ilmunya ikut hilang. Melalui KMS, kami menyerap pengetahuan tersebut dan menyistemkannya. Di KMS, kami juga berkolaborasi dengan berbagai institusi pendidikan.”
Ia menambahkan, Corporate University juga mendorong lahirnya budaya self-learning. Insan KAI didorong untuk terus mengembangkan kompetensinya secara mandiri melalui berbagai platform digital, sekaligus berbagi pengetahuan sebagai bagian dari pengembangan talenta perusahaan.
“Kami berharap Corporate University menjadi “pabrik” talenta bagi KAI, yakni menyiapkan talenta-talenta unggul di industri kereta api yang bisa bersaing dengan kebutuhan dan tuntutan perubahan,” imbuhnya.
Memberikan Dampak bagi Bisnis KAI
Lebih jauh, perempuan yang gemar olahraga lari ini menuturkan, keberhasilan Corporate University tidak hanya diukur dari banyaknya pelatihan yang diselenggarakan, tetapi juga dari dampak terhadap perusahaan.
Melalui Learning Governance Board (LGB) yang melibatkan seluruh direktorat, Corporate University menyelaraskan strategi pembelajaran dengan arah bisnis perusahaan. Forum ini menetapkan tema utama pembelajaran, program prioritas, hingga kebutuhan sumber daya agar setiap pelatihan benar-benar mendukung pencapaian target perusahaan.
Untuk 2027, misalnya, KAI menetapkan tema Sustainable Business Through Safety and Operational Excellence. Tema tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai program pembelajaran sesuai kebutuhan masing-masing direktorat, mulai dari operasional, keselamatan, pemasaran, keuangan, hingga pengelolaan sumber daya manusia.
“Ke depan, Corporate University juga tengah membangun sistem untuk mengukur return on training investment, sehingga kontribusi pendidikan terhadap peningkatan kinerja perusahaan dapat diukur secara lebih nyata.”

Menjadi Center of Excellence
Transformasi yang dijalankan hari ini menjadi fondasi menuju cita-cita yang lebih besar. Ida berharap KAI Corporate University berkembang menjadi center of excellence, bukan hanya bagi Insan KAI, tetapi juga bagi industri perkeretaapian di tingkat nasional hingga Asia Tenggara.
Selama ini KAI banyak belajar dari berbagai lembaga dan operator kereta api dunia. Ke depan, ia berharap arah itu berbalik: KAI menjadi tempat belajar bagi insan perkeretaapian dari berbagai negara melalui sumber daya manusia, kurikulum, hingga fasilitas pembelajaran yang terus dikembangkan.
Di pengujung masa pengabdiannya, Ida berpesan agar setiap Insan KAI tetap memiliki semangat untuk belajar, bertumbuh dan membangun budaya belajar mandiri (Self Learning Culture) termasuk pekerjaan maupun penugasan yang diberikan. Menurutnya, pembelajaran tidak boleh berhenti pada penugasan atau kewajiban, tetapi harus lahir dari kesadaran untuk terus berkembang.
“Jangan lupa belajar, jangan hanya belajar karena penugasan, tetapi mari kita tingkatkan kesadaran untuk belajar secara mandiri,” ucapnya.