Oleh: Unit Kesehatan DAOP 2 Bandung
Penyakit kardiovaskular masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia. Kementerian Kesehatan menegaskan bahwa tingginya beban penyakit jantung di Indonesia berkaitan erat dengan faktor-faktor risiko yang dapat dimodifikasi, seperti merokok, hipertensi, obesitas, diabetes, pola makan yang tidak sehat, dan kurangnya aktivitas fisik. Pada 2023, pembiayaan JKN untuk penyakit kardiovaskular menjadi yang terbesar, mencapai Rp22,8 triliun. Fakta ini menunjukkan bahwa pendekatan pencegahan dan deteksi dini harus menjadi prioritas, bukan sekadar pelengkap layanan kuratif.
Medical Check Up (MCU) menjadi salah satu pendekatan untuk pencegahan penyakit kardiovaskular. Dalam pelaksanaan MCU, Framingham Risk Score (FRS) menjadi salah satu alat penilaian yang penting. FRS pada dasarnya adalah model penilaian risiko yang digunakan untuk memperkirakan kemungkinan terjadinya kejadian kardiovaskular dalam 10 tahun ke depan. Model ini berkembang dari Framingham Heart Study dan menggunakan faktor-faktor klinis yang sangat akrab dalam praktik sehari-hari, seperti usia, jenis kelamin, tekanan darah sistolik, kebiasaan merokok, diabetes, kolesterol total, dan HDL. Dengan kata lain, FRS mengubah data pemeriksaan yang sering dianggap “angka biasa” menjadi estimasi risiko yang lebih bermakna secara klinis.
Gambar 1 . Pemeriksaan EKG

Nilai utama FRS bukan terletak pada kemampuannya “mendiagnosis” penyakit jantung, melainkan pada kemampuannya mengidentifikasi siapa yang tampak sehat tetapi sebenarnya mulai mengarah ke risiko yang lebih tinggi. Inilah alasan mengapa FRS sangat relevan bila dikaitkan dengan Medical Check Up (MCU). MCU tidak seharusnya berhenti pada kumpulan hasil laboratorium, melainkan harus sampai pada interpretasi: apakah seseorang berisiko rendah, sedang, atau tinggi, dan apa tindak lanjut yang perlu dilakukan. Dengan adanya metode tersebut, harapannya penyakit jantung dapat dicegah secara dini pada populasi yang berisiko tinggi.
Pemeriksaan lanjutan tetap penting, tetapi tidak semua orang membutuhkannya pada tahap awal. Pemeriksaan EKG dapat menjadi pemeriksaan awal yang umum pada MCU kardiovaskular, sedangkan treadmill bermanfaat untuk mendeteksi risiko penyakit jantung, menilai kapasitas fungsional, dan dapat menjadi salah satu modalitas MCU rutin pada kelompok tertentu. Pemeriksaan lanjutan harus dilakukan secara terarah, terutama pada mereka yang bergejala, memiliki hasil dasar yang abnormal, atau termasuk kelompok risiko menengah-tinggi. Prinsip ini juga selaras dengan pemeriksaan MCU yang diterapkan di PT Kereta Api Indonesia (Persero) yang menempatkan treadmill, echokardiografi, Holter, dan CT-scan sebagai bagian dari evaluasi lanjutan tergantung risiko yang dimiliki.
Hal lain yang perlu ditekankan adalah bahwa skor risiko FRS bukanlah sebagai diagnosis. Seseorang dengan skor risiko FRS rendah belum tentu bebas masalah, terutama bila pekerja tersebut masih muda tetapi perokok berat, obesitas, atau memiliki riwayat genetik. Sebaliknya, seseorang dengan skor tinggi bukan berarti pasti akan mengalami serangan jantung, tetapi ia memiliki probabilitas yang cukup besar sehingga intervensi harus lebih agresif. Karena itu, skor FRS sebaiknya dipandang sebagai alat bantu pengambilan keputusan, bukan pengganti penilaian klinis dokter.
Pada akhirnya, hubungan antara Framingham Risk Score dan MCU sangat erat. Pemeriksaan MCU semestinya tidak lagi hanya berfokus pada “cek kesehatan”, tetapi pada mendeteksi risiko lebih awal, menilai tingkat bahayanya, lalu melakukan intervensi yang tepat sebelum terjadi kejadian kardiovaskular yang fatal.

Daftar Pustaka:
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024, 24 September). Kenali gejala jantung sejak dini.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025, 4 Februari). Cek Kesehatan Gratis: Ini manfaat dan jenis pemeriksaan yang kamu dapatkan.
- Khasanah, Y. C. (2024, 25 Juli). Kapan sebaiknya periksa kesehatan jantung? Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan RI.