Di Jabodetabek, transportasi publik berbasis rel kian menunjukkan perannya sebagai andalan pergerakan harian masyarakat.
Sepanjang Januari hingga November 2025, layanan KRL Jabodetabek mencatat lebih dari 317 juta perjalanan. Rata-rata hampir satu juta orang menggunakan Commuter Line setiap hari untuk berangkat dan pulang beraktivitas. Pergerakan tersebut tersebar di lintas-lintas utama seperti Bogor, Cikarang, Rangkasbitung, Tangerang, hingga Tanjung Priok.
Beberapa stasiun menjadi simpul penting mobilitas harian. Bogor, Tanah Abang, Sudirman, Citayam, dan Bekasi mencatat puluhan juta transaksi naik dan turun penumpang. Stasiun Manggarai menegaskan perannya sebagai pusat transit nasional. Hingga November 2025, lebih dari 52 juta transaksi transit terjadi di stasiun ini.
Penguatan mobilitas urban tidak hanya bertumpu pada KRL. LRT Jabodebek juga mencatat pertumbuhan signifikan dengan lebih dari 26 juta pengguna hingga November 2025. Pada hari kerja, hampir 100 ribu orang memanfaatkan layanan ini setiap hari. Dukuh Atas, Harjamukti, Kuningan, dan Cikoko menjadi stasiun-stasiun dengan arus tertinggi.

Memacu Integrasi Antarmoda
Integrasi antarmoda menjadi kunci dari penguatan ini. Kawasan Dukuh Atas dan Cikoko–Cawang berperan sebagai penghubung strategis antara LRT Jabodebek dan Commuter Line. Konektivitas tersebut membantu mendistribusikan arus penumpang dari wilayah timur dan selatan menuju pusat aktivitas Jakarta, sekaligus mengurangi beban di simpul-simpul padat.
Di sisi sarana, penguatan layanan dilakukan secara bertahap. Sejak pertengahan 2025, KAI Commuter telah mengoperasikan 11 rangkaian KRL baru untuk menggantikan sarana yang memasuki usia akhir layanan. Setiap rangkaian terdiri dari 12 kereta, sehingga total lebih dari seratus unit kereta baru kini menopang layanan harian.
Pemerintah pusat juga memberikan dukungan lanjutan melalui persetujuan anggaran pengadaan 30 rangkaian KRL tambahan, sebagai langkah strategis menjawab pertumbuhan mobilitas Jabodetabek ke depan.