Pilar Transportasi Berkelanjutan KAI

KAI menempatkan ESG sebagai pijakan dalam membangun transportasi publik berkelanjutan. Setiap inisiatif dirancang untuk membawa perubahan dan menghadirkan dampak positif bagi perusahaan, masyarakat, dan lingkungan.

Keberlanjutan (sustainability) kini tidak lagi dipandang sebagai wacana global yang jauh dari realitas operasional perusahaan. Di tengah tekanan perubahan iklim serta meningkatnya ekspektasi publik terhadap tata kelola yang bersih dan inklusif, keberlanjutan justru menjelma menjadi bagian tak terpisahkan dari cara sebuah perusahaan bertahan dan bertumbuh.

Sebagai tulang punggung transportasi nasional, KAI memiliki peran strategis dalam menjaga kelancaran mobilitas orang dan barang. Peran tersebut berjalan beriringan dengan upaya menekan emisi, mengelola dampak sosial, serta memperkuat tata kelola perusahaan. Atas dasar itulah, KAI memposisikan Environmental, Social, Governance (ESG) bukan sebagai jargon, melainkan kerangka kerja strategis yang menuntun arah transformasi dan keberlanjutan bisnis.

Vice President Sustainability KAI Tria Mutiari Meilan mengatakan, isu keberlanjutan memiliki irisan yang sangat kuat dengan proses bisnis perkeretaapian. “Kalau kita bicara sustainability, banyak sekali aspek yang langsung berkaitan dengan KAI. Mulai dari emisi, limbah, polusi udara dan suara, sampai perubahan iklim. Bahkan, elektrifikasi merupakan bagian dari upaya penurunan emisi,” ujarnya.

Tria menambahkan, KAI memandang keberlanjutan melalui konsep double materiality. Pertama, bagaimana operasional perusahaan memberikan dampak terhadap lingkungan dan sosial. Kedua, bagaimana isu-isu eksternal, seperti perubahan iklim dan dinamika sosial, mempengaruhi keberlanjutan bisnis KAI ke depan.

Dalam kerangka ESG, tata kelola juga menjadi elemen penting untuk memastikan seluruh inisiatif lingkungan dan sosial berjalan konsisten. Dalam hal ini, KAI telah memiliki dua dokumen utama sebagai payung implementasi, yakni Kebijakan Keberlanjutan serta Peraturan Direksi tentang Pedoman Implementasi ESG.

“Dua dokumen ini menjadi payung bagi seluruh Insan KAI dalam mengimplementasikan ESG. Aturan teknisnya kemudian dibuat secara detail sesuai kewenangan dan tugas masing-masing unit kerja.”

Roadmap ESG: Peta Jalan Keberlanjutan di KAI

Sebagai panduan strategis, KAI menyusun roadmap ESG yang mencakup tiga pilar utama: lingkungan, sosial, dan tata kelola. Roadmap ini dirancang dengan tujuan jangka pendek, menengah, dan panjang.

Pada pilar lingkungan, fokus utama diarahkan pada pengurangan emisi dan transisi energi. KAI menargetkan penurunan emisi secara bertahap hingga 2030, dengan visi jangka panjang mencapai net zero emission pada 2060, sejalan dengan komitmen Indonesia. Strategi ini diperkuat dengan penyusunan peta jalan net zero emission KAI, yang mencakup berbagai inisiatif konkret, mulai dari peningkatan efisiensi energi hingga pemanfaatan energi baru terbarukan.

Pilar sosial mencakup isu ketenagakerjaan, kesetaraan, keselamatan, serta kontribusi terhadap masyarakat. Sementara itu, pilar tata kelola difokuskan pada transparansi, akuntabilitas, dan penguatan sistem pengendalian internal, termasuk digitalisasi proses bisnis.

Dari Roadmap ke Aksi Nyata

Roadmap tersebut kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai inovasi dan inisiatif nyata yang menyentuh langsung aspek lingkungan, sosial, dan tata kelola.

Pada aspek lingkungan, salah satu terobosan penting ialah peluncuran fitur Carbon Footprint di aplikasi Access by KAI. Fitur ini memungkinkan pelanggan mengetahui besaran emisi karbon dari perjalanan yang mereka lakukan menggunakan kereta api, sekaligus membandingkannya dengan moda transportasi lain.

Dalam aspek operasional dan prasarana, KAI juga melakukan sejumlah inisiatif ramah lingkungan. Upaya tersebut antara lain penggantian bantalan rel kayu pada jembatan baja dengan bantalan sintetis untuk mengurangi ketergantungan pada kayu, serta penerapan teknologi harmonika guna menekan polusi suara. Selain itu, sebagai langkah mengurangi penggunaan botol plastik sekali pakai, KAI menghadirkan fasilitas water station di sejumlah stasiun.

Langkah lainnya ialah mengembangkan green building yang bertujuan mendorong efisiensi energi. Sejalan dengan agenda efisiensi dan transisi energi, KAI juga secara bertahap memanfaatkan pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di stasiun, depo, Balai Yasa, serta perkantoran. Di sisi lain, penggunaan biodiesel B40 pada lokomotif turut berkontribusi dalam menurunkan emisi dari sektor transportasi.

Pada aspek sosial, KAI mengembangkan berbagai program yang menyentuh langsung masyarakat dan pekerja. Rail Clinic dan Rail Library menjadi contoh nyata kontribusi sosial perusahaan. Sepanjang 2024, Rail Clinic telah melayani ribuan masyarakat dengan layanan kesehatan, pemberian kacamata gratis, serta makanan tambahan bagi ibu hamil. Sementara Rail Library menghadirkan akses literasi dan kegiatan edukatif di berbagai daerah.

Di internal perusahaan, perhatian terhadap keselamatan dan kesehatan kerja terus diperkuat. Penyesuaian pola kerja masinis, misalnya, dilakukan untuk menjaga kesehatan mental dan fisik, sekaligus meningkatkan keselamatan perjalanan.

Dari sisi tata kelola, transformasi digital menjadi pendorong utama. Penerapan face recognition di stasiun dan sistem paperless melalui Rail Document System (RDS) tidak hanya meningkatkan efisiensi, tetapi juga memperkuat akurasi data dan transparansi proses. Digitalisasi ini memperkecil potensi kesalahan manual serta mendukung prinsip good corporate governance.

Mengukur Dampak, Menjaga Akuntabilitas

Lebih jauh Tria menjelaskan, implementasi berbagai inisiatif keberlanjutan perlu diikuti dengan mekanisme evaluasi yang jelas. Setiap inisiatif ESG harus dapat diukur, dievaluasi, dan dipertanggungjawabkan.

Dalam praktiknya, KAI mengacu pada standar yang berlaku, baik nasional maupun global. Secara regulatif, implementasi keberlanjutan di KAI diselaraskan dengan Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK), serta dinilai melalui asesmen oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP). Dari asesmen ini, KAI memperoleh gambaran komprehensif implementasi ESG.

Pada level global, KAI mengacu pada standar internasional Global Reporting Initiative (GRI). Selain GRI, KAI juga mengacu pada pemeringkatan ESG Global, yakni S&P Global. Pada tahun pertama keikutsertaannya, yakni 2024, KAI meraih skor ESG 41 dan masuk dalam 20 persen teratas sektor transportasi dan infrastruktur transportasi dunia.

Untuk mengukur dampak kebijakan keberlanjutan di internal perusahaan, KAI memanfaatkan data Survei Kepuasan Pegawai, terutama indikator sosial. Sementara, untuk mengukur dampak eksternal, KAI menggunakan pendekatan Social Return on Investment (SROI). Pendekatan ini bertujuan untuk menghitung sejauh mana program-program keberlanjutan memberi nilai nyata bagi masyarakat.

Guna memperkuat implementasi dan menjamin praktik ESG selaras dengan standar global, KAI bergabung ke dalam United Nations Global Compact (UNGC). Keanggotaan ini memberi akses terhadap pengetahuan terbaru, isu dan peluang ESG global, serta jejaring internasional yang dapat memperkuat implementasi ESG perusahaan.

“UNGC memiliki 10 prinsip yang harus dipenuhi anggotanya. Bergabungnya KAI ke dalam UNGC merupakan bagian dari komitmen dan keseriusan kami dalam mengimplementasikan sustainability.”

Pengakuan atas Praktik ESG yang Berkelanjutan

Konsistensi KAI dalam mengimplementasikan prinsip ESG telah membawa perusahaan pada sejumlah penghargaan. Dalam ESG Initiative Awards 2025, KAI meraih lima penghargaan, antara lain, Best Employee Wellbeing & Development Strategy (Gold), Best Energy Transition Program (Gold), Best ESG Women Leader (Gold), Best CEO for ESG Initiatives (Gold), serta Best ESG Reporting & Transparency (Silver).

Sementara, pada ajang Asia Sustainability Reporting Rating (ASRRAT) 2025, KAI meraih Platinum Rating atas kualitas dan transparansi pelaporan keberlanjutan. Adapun dalam Indonesia Corporate Sustainability Awards 2025, KAI dianugerahi The Best Company for Comprehensive ESG Implementation Practices dan The Best Company for The Community Empowerment Programme.

Berbagai pencapaian tersebut tak hanya menjadi penanada keberhasilan, tetapi semakin memperkuat tekad KAI untuk mengimplementasikan prinsip ESG secara konsisten dan berkelanjutan. Tria berharap, KAI dapat terus menjadi tulang punggung transportasi publik nasional yang andal, ramah lingkungan, dan inklusif sehingga bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.

“Dan, dengan adanya program keberlanjutan, KAI tidak hanya tumbuh secara bisnis, tetapi kehadirannya memberikan dampak positif yang betul-betul dirasakan masyarakat Indonesia.”

 

 

Pullquote:

“Dengan adanya program keberlanjutan, KAI tidak hanya tumbuh secara bisnis, tetapi kehadirannya memberikan dampak positif yang betul-betul dirasakan masyarakat Indonesia.”

Vice President Sustainability KAI Tria Mutiari Meilan

Share Artikel

Hubungi Kami