Bagi Tria, keberlanjutan bukan sekadar konsep global yang dibahas di forum internasional, tetapi juga prinsip kerja sehari-hari agar organisasi bertumbuh dengan inklusif, setara, dan adil.
Kiprah Tria Mutiari Meilan di dunia perkeretaapian memang relatif baru. Sebagian besar perjalanan profesionalnya justru ditempa di sektor perbankan. Selama lebih dari 22 tahun, ia menapaki beragam unit kerja, mulai dari pengembangan produk, sumber daya manusia, hingga risk management dan compliance. Lebih dari satu dekade terakhir, fokusnya semakin mengerucut pada risk management yang berkaitan erat dengan sustainability.
Ketertarikan Tria pada sustainability tumbuh seiring menguatnya kebijakan sustainable finance di Indonesia. Sejak 2012, ia mengikuti secara langsung proses pengenalan dan penguatan praktik ESG yang digulirkan oleh Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan. Pengalaman panjang tersebut mengantarkannya terlibat dalam implementasi ESG yang membuahkan capaian membanggakan di institusi tempatnya berkarya sebelumnya.
Setelah lebih dari dua dekade berada di ranah yang telah ia pahami dengan baik, Tria memilih melangkah ke tantangan baru. Pada Oktober 2024, ia resmi bergabung dengan KAI sebagai Vice President of Sustainability.
Keputusan tersebut didorong oleh kompleksitas implementasi ESG di sektor perkeretaapian. Meski dikenal sebagai moda transportasi massal dengan emisi yang relatif lebih rendah per penumpang, sektor transportasi tetap menyumbang emisi yang signifikan. Di sisi lain, layanan kereta api bersentuhan langsung dengan jutaan penumpang, sehingga menuntut pendekatan keberlanjutan yang lebih menyeluruh dan terintegrasi.
“Implementasi ESG di kereta api memang jauh lebih complicated. Hampir semua aspek ESG, lingkungan, sosial, dan tata kelola, dihadapi oleh KAI. Kompleksitas inilah yang justru mendorong saya tertarik bergabung di sektor kereta api,” terang Tria.
Budaya kerja dan Ritme yang Berbeda
Berpindah dari sektor perbankan ke dunia perkeretaapian mempertemukan Tria dengan budaya kerja yang berbeda. Jika di perbankan sebagian pekerjaan dapat diselesaikan secara individual sesuai kewenangan, di kereta api keselamatan menjadi prioritas utama yang menuntut kekompakan. Safety tidak bisa dijalankan secara parsial, kerja tim dan disiplin kolektif menjadi sebuah keharusan dalam setiap proses operasional.
Perbedaan budaya kerja tersebut semakin ia rasakan saat terlibat langsung dalam Posko Angkutan Lebaran. Tria menyaksikan bagaimana kesiapsiagaan dijaga selama 24 jam, dari tim di Balai Yasa yang siaga menghadapi gangguan hingga para masinis dan awak kereta yang bekerja tanpa henti demi kelancaran perjalanan. Di balik ramainya arus mudik, ia melihat kuatnya solidaritas dan loyalitas Insan KAI dalam menjaga layanan tetap berjalan.
“Saya sempat terharu. Di balik kebahagiaan orang-orang yang mudik, ternyata begitu banyak teman-teman di lapangan yang bekerja tanpa henti. Mereka sangat kompak dan loyal untuk memastikan operasional berjalan lancar.”
Kepemimpinan Berbasis Inklusivitas
Mengemban peran di bidang sustainability telah membentuk cara pandang Tria dalam memimpin tim. Ia percaya bahwa nilai-nilai keberlanjutan tak hanya bicara tentang level global atau nasional, tetapi juga aspek sosial terkait ketenagakerjaan. Nilai-nilai tersebut berbicara tentang inklusivitas, yakni kesetaraan dan praktik yang adil dalam bekerja. Hal ini menginspirasinya bahwa sustainability juga berkaitan dengan diri, lingkungan, dan tim kerja.
Dalam memimpin, Tria juga memegang teguh prinsip no one left behind. Baginya, pengetahuan, akses informasi, dan peluang pengembangan perlu dibuka seluas-luasnya agar setiap anggota tim memiliki kesempatan yang sama untuk bertumbuh. Prinsip ini menjadi dasar dalam membangun budaya kerja yang inklusif dan saling menguatkan.
“Kita tidak bisa maju sendiri sementara ada yang tertinggal. Kalau saya punya akses atau informasi, saya ingin teman-teman juga bisa mengaksesnya. Jadi, tidak hanya saya yang tahu.”
Ia juga menekankan pendekatan kepemimpinan yang bertumpu pada keseimbangan. Target dan dorongan berprestasi tetap dijaga, tetapi dilakukan dengan cara yang humanis. Ia memberi ruang bagi tim untuk mengatur strategi, selama tanggung jawab dan tujuan kerja tetap jelas. Kehadiran yang dekat, komunikasi yang terbuka, dan kepercayaan menjadi kunci relasi kerja yang ia bangun.
“Saya juga berusaha membangun hubungan yang tidak terlalu formal agar komunikasi tetap terbuka. Dengan begitu, ketika ada kendala, tim tidak sungkan untuk bercerita dan masalah bisa lebih cepat diselesaikan.”
Pendekatan kepemimpinan yang inklusif dan kolaboratif ini memungkinkan berbagai program keberlanjutan dirancang dan dijalankan secara efektif. Hasilnya mulai terlihat melalui peningkatan Rating ESG KAI 2025. Hanya dalam kurun waku satu tahun, Rating ESG KAI meningkat menjadi 55, naik signifikan dari tahun sebelumnya, yakni 41.
Kepedulian Tria terhadap keberlanjutan tak hanya dicurahkan melalui berbagai program di perusahaan. Di luar karier profesional, Tria aktif berkontribusi dalam berbagai asosiasi dan forum sustainability, termasuk sebagai pengurus Indonesian Society of Sustainability Professionals (IS2P). Konsistensi dan dedikasinya dalam mendorong implementasi ESG juga diakui oleh eksternal, salah satunya melalui penghargaan Best ESG Women Leader kategori Gold pada ESG Initiative Award 2025.