Pensiun dini dari dunia perbankan membawa Emanuel pada pilihan baru. Di KAI, ia menemukan ruang untuk berkontribusi dan mengabdi bagi negeri.
Setelah 25 tahun berkarier di dunia perbankan, Emanuel Kurniawan Kriswijayanto memilih mengambil pensiun dini. Alih-alih melanjutkan karier di industri yang telah membesarkan namanya, ia justru mengambil tantangan baru dengan bergabung bersama KAI pada 16 November 2015 sebagai Staf Ahli Direktur Utama dan diperbantukan di Direktorat Keuangan.
Pilihan tersebut tentu memiliki konsekuensi, salah satunya dari sisi penghasilan. Gaji yang diterimanya saat itu hanya sekitar 50 persen dari penghasilan sebelumnya. Namun, pendapatan bulanan memang bukan satu-satunya pertimbangan. Tantangan dan keinginan mengabdi untuk negeri yang membuatnya mantap mengambil kesempatan tersebut.
“Selain karena KAI ini sangat challenging, saya ingin mengabdi untuk negeri. Jadi, bukan soal gaji, tetapi bagaimana saya bisa mengabdi untuk Indonesia,” ujarnya.
Pengalaman panjang di bidang treasury kemudian menjadi bekal Emanuel dalam menjalankan berbagai penugasan di KAI. Dari Direktorat Keuangan, kiprahnya berkembang ke pengelolaan anak perusahaan hingga terlibat dalam berbagai program strategis perusahaan.
Menata Bisnis dalam Ekosistem KAI Group
Seiring perjalanan kariernya di KAI, tanggung jawab Emanuel pun berkembang. Kini sebagai Executive Vice President of Portfolio and Subsidiary Management, ia tidak hanya berperan dalam pembinaan dan pengelolaan anak perusahaan, tetapi juga terlibat dalam berbagai penugasan strategis perusahaan, termasuk evaluasi investasi dan pengembangan bisnis.
Dalam menjalankan fungsi tersebut, Emanuel bersama tim melakukan kajian terhadap kinerja dan rencana bisnis anak perusahaan, penyusunan RKAP, pemantauan investasi, hingga memberikan rekomendasi atas berbagai keputusan strategis. Setiap usulan investasi perlu dilihat dari manfaat, kelayakan, risiko, serta kontribusinya terhadap KAI Group secara keseluruhan.
Bagi Emanuel, pengelolaan portofolio pada dasarnya adalah menentukan ke mana sumber daya perusahaan diarahkan agar memberikan nilai terbaik. Karena itu, investasi tidak cukup dilihat dari potensi keuntungan, tetapi juga dari bagaimana suatu bisnis dapat mendukung dan memperkuat ekosistem KAI.
Salah satu agenda besar yang tengah disiapkan adalah menjadikan PT Industri Kereta Api (INKA) sebagai bagian dari KAI Group. Langkah tersebut diarahkan untuk memperkuat keterhubungan antara kebutuhan sarana perkeretaapian KAI dengan industri manufaktur dalam negeri. Dengan INKA berada dalam ekosistem KAI, kebutuhan sarana dapat direncanakan dan dipantau secara lebih terintegrasi.
Di sisi layanan penumpang, pengalihan sejumlah layanan kereta menuju KAI Commuter juga menjadi bagian dari agenda penataan portofolio. Pengelolaan kereta bandara Yogyakarta dan Kualanamu dipersiapkan untuk dialihkan kepada KAI Commuter. Demikian pula dengan layanan LRT yang secara bertahap diarahkan untuk dikelola oleh KAI Commuter, sehingga pengoperasian dan standar pelayanan dapat lebih terintegrasi.
Penataan portofolio juga dilakukan melalui program streamlining. Salah satunya ialah penggabungan Railink dengan KAI Wisata untuk menciptakan struktur usaha yang lebih efektif. Sementara, di sektor logistik, KAI Logistik disiapkan untuk mengambil peran lebih besar dalam angkutan barang, termasuk melalui pengembangan fasilitas Kramasan di Sumatera Selatan.
“Kramasan kami kembangkan agar kapasitas angkutan barang KAI bisa lebih besar. Ke depan, kalau ada perubahan kebijakan angkutan barang, KAI sudah siap dengan kapasitas dan infrastrukturnya,” jelasnya.
Berani Memutuskan, Berani Menjalankan
Berada di balik berbagai keputusan strategis membuat Emanuel terbiasa bekerja secara cepat dan sistematis, sekaligus berani mengambil keputusan. Menurutnya, perencanaan yang matang merupakan keharusan. Namun, rencana tidak akan berarti tanpa keberanian untuk mengimplementasikannya.
Prinsip tersebut juga ia terapkan dalam memimpin tim. Emanuel memberikan ruang kepada anggota tim untuk mengambil keputusan sesuai kewenangannya, sekaligus mendorong mereka melihat persoalan secara lebih menyeluruh.
“Saya kerap mengatakan kepada VP di jajaran saya, kamu harus berani mengambil keputusan. Kalau tidak bisa, baru ke saya. Selama kamu bisa, lakukan, dan laporkan ke saya,” ucapnya.
Keberanian mengambil keputusan, menurut Emanuel, juga perlu diiringi kemauan untuk terus belajar. Oleh karena itu, ia mendorong Insan KAI untuk terus belajar, terbuka terhadap masukan dan tidak ragu berdiskusi ketika menghadapi persoalan yang belum dipahami.